Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 16 September 2009

Tentang Kami

Apa itu Sampit Rami ?

Sampit Rami adalah tema untuk mengunjungi Sampit. Sebenarnya ini bukan tema resmi dan bukan blog resmi. Ini hanya sebuah blog kecil untuk memberikan rekomendasi dan info-info tentang Sampit.

Siapa Para Penulisnya?
Semuanya yang tahu tentang Sampit! Mungkin kamu punya beberapa dokumentasi? atau foto-foto keren di Sampit? Berbagilah bersama dengan kami! Cukup kirimkan ke oberon4mine@gmail.com

Fenomena Ribuan Burung di Sampit

Setiap hari pada jam 4-5 sore, pergi ke PPM. Kamu bias melihat fenomena menakjubkan, ratusan dan ribuan burung-burung walet berterbangan secara acak, sangat mengagumkan!

Selasa, 15 September 2009

Photography in Sampit , by Phee(y)

Inhutani..(Ex Pabrik Moalding Kayu)
Di samping sungai mentaya
Terimakasih buat Kak Phya Fadia, mata kakak brilian!

AE

Dialek yang unik dari warga Sampit adalah penggunaan “ae”. Nggak usah cari di kamus! (Kenapa? Nggak tahu, buang-buang waktu aja, hehehe) Biasanya kami menggunakan ini untuk pernyataan :

Lisa : Jadi bagaimana ?
Nina : Ya... dipaksakan ae..

Terkadang ae juga ditulis ai, dalam mengetik di SMS biasanya kami mengetik æ
Ae biasanya digunakan untuk keputusan akhir dan tidak ada pilihan lain lagi.

Makanan yang harus dicoba!

Karena Sampit adalah kota pelabuhan dan perdagangan, jadi begitu banyak jenis makanan di Sampit. Yang paling umum ditemui adalah makanan khas Banjar.

Nasi Goreng
Biasa ya? Tapi saya rasa nasi goreng yang ada di Sampit agak beda dengan wilayah lainnya. Disini beras yang digunakan Beras Unus, beras yang kualitasnya jempolan. Kalau di Jawa beras yang bagus yang pulen kan? Nah.. disini beras yang bagus (dan mahal!) malah yang nggak menyatu! Bahasa banjarnya Rahai.


Nasi Kuning
Saya merekomendasikan nasi kuning dekat Pelabuhan dan PPM (Pusat Perbelanjaan Mentaya). Disitu ada penjual nasi kuning dari generasi ke generasi. Tokonya kecil, dan mohon datang pagi-pagi, karena nggak bakalan dapat apa-apa setelah jam 6 pagi.

Makanan musiman (gak bisa dapat setiap saat!)

Dami
Dami adalah kulit Tiwadak (cempedak) yang dibersihkan dan digoreng. Dimakan sebagai makanan pendamping dengan nasi. Menurut saya ini pembangkit selera makan. M!! Enak!!

Bingka
Bentuknya seperti bunga. Sebenarnya Bingka ini berasal dari Banjar. Bingka di Sampit hanya ditemui di bulan Ramadhan, banyak penjual makanan yang akan menjualnya, namun sangat langka di bulan yang lain.

Bahasa

Sampit menggunakan Bahasa Indonesia, tapi yang paling sering dipakai orang adalah Bahasa Banjar (Namun tetap Bahasa Dayak, Bahasa Jawa, Bahasa Madura tetap sering terdengar). Ini ada beberapa kosakata yang mungkin berguna :

Ulun : Saya
Pian : Anda
Urangnya : Permisi (memanggil penjual, ketika memasuki toko dan tidak ada orang di toko tersebut)
Nukarlah : Saya beli ya (permisi ke penjual, yang menjual akan menjawab “Jual”. Ya... semacam ijab kabul)
Bujur : Benar
Nyaman : Enak
Rami : Ramai
Lakasi : Cepetan!

Bahaya atau Larangan di Sampit

Kepercayaan mengatakan tidak boleh membawa ketan jika ingin keluar dari Sampit. Warga Sampit percaya itu memberi kesialan.

Jika diberi makanan oleh seseorang dan saat yang bersamaan kita sedang ingin pergi, kamu harus memakan yang disuguhi tadi, meskipun sedikit, ini disebut Mose. Warga Sampit percaya jika tidak melakukan hal tersebut akan kepuhunan (apa ya? Kurang lebih maksudnya “rugi kamu nggak pernah nyoba!” dan terngiang-ngiang di jalan)

About This Blog

Recent Comments

About This Blog

  © Blogger template 'Sunshine' by Ourblogtemplates.com | Distributed by Deluxe Templates 2008

Back to TOP